Lampu Taman Panel Surya

Lampu Taman adalah lampu yang umumnya dipasang di taman dan berfungsi untuk memperindah dan menerangi taman. Lampu taman yang umumnya digunakan sudah pasti memerlukan instalasi kabel listrik. Namun...

Global Warming, Bisa Enggak Sih diatasi?

Siapa yang tidak pernah mendengar istilah global warming. Ya, Global Warming atau biasa disebut juga dengan ‘Pemanasan Global’ telah menjadi momok yang menakutkan untuk kita sebagai penghuni bumi. Pasalnya

Eco Bamboo House

Rumah tinggal yang akan kita bahas kali ini adalah rumah tinggal milik Ir. Budi Faisal, MAUD, MLA, PhD. Seorang arsitek yang juga

Eco Office, Tren Baru Dunia Arsitektur

Global warming memang sudah menjadi topik yang kerap dibahas di berbagai negara termasuk Indonesia. Lihat saja suhu udara yang semakin panas di berbagai kota khususnya kota besar. Pembangunan pesat seperti

Tampilkan postingan dengan label Tata Kota. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tata Kota. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 April 2015

Global Warming, Bisa Enggak Sih Diatasi ?





Siapa yang tidak pernah mendengar istilah global warming. Ya, Global Warming atau biasa disebut juga dengan ‘Pemanasan Global’ telah menjadi momok yang menakutkan untuk kita sebagai penghuni bumi. Pasalnya kondisi bumi saat ini sudah mendekati masa kritisnya. Perubahan yang disebabkan oleh aktivitas manusia baik secara langsung maupun tidak langsung (gas rumah kaca) yang mengubah komposisi atmosfer secara global dan mengakibatkan perubahan variasi iklim. Inilah yang menyebabkan suhu bumi kita terasa semakin panas dari waktu ke waktu. Lantas adakah cara untuk memulihkan kondisi bumi kita menjadi sehat kembali?



Ada beberapa cara yang dapat ditempuh untuk mengatasi global warming, cara-cara tersebut antara lain :

* Menjadi katalisator (penggerak masyarakat untuk melakukan perubahan)


   Sebagai manusia yang sadar akan lingkungan, sudah sewajarnya kita memiliki kekuatan untuk menunjukkan aspirasi kita demi memajukan kelangsungan hidup kita yang lebih baik dimasa mendatang. Lalu menerangkan aspirasi tentang pentingnya hidup sehat kepada kawan-kawan kita, dan mengajak mereka untuk ikut andil bersama kita dalam memajukan kelangsungan hidup kita yang sehat. Aspirasi juga dapat kita sampaikan ke lembaga pemerintahan supaya pemerintah juga ikut berpartisipasi memajukan kelangsungan hidup yang sehat. Melihat acara televisi yang mengabarkan tentang kebenaran yang pahit tentang keberadaan bumi sekarang dapat memberikan dorongan pada masyarakat untuk ikut berperan dalam memajukan kelangsungan hidup yang sehat.

* Menanam Pohon

   Pohon adalah penyumbang oksigen terbesar yang dapat dijadikan solusi untuk mengatasi global warming. oksigen yang dihasilkan sangat bermanfaat untuk mengurangi dampak global warming.

* Mengurangi konsumsi daging

   Daging yang diperoleh dari hewan ternak seperti sapi, kambing dll ternyata menyumbang peran atas terjadinya masalah pemanasan global. kotoran yang dihasilkan dari hewan-hewan ternak tersebut memiliki kandungan gas methana. Dimana gas methana mengandung emisi efek rumah kaca 23x lebih ganas daripada gas CO2. Jadi selain baik untuk kesehatan, mengurangi konsumsi daging juga baik untuk kelangsungan dan kesejahteraan bumi kita.

* Meminimalisasai penggunaan barang yang mengeksploitasi alam dan tidak dapat diperbaharui

   - Mengganti penggunaan kantong plastik untuk belanja dengan memakai tas dari bahan yang mudah di daur ulang seperti tas dari bahan kain.
   - Menggunakan kertas daur ulang, seperti yang kita ketahui kertas terbuat dari serat pohon. produksi kertas yang dilakukan terus menerus nantinya akan mengeksploitasi keberadaan pohon mengurangi jumlah pemakaian kertas berarti mengurangi laju penebangan pohon di hutan. sehingga fungsi pohon sebagai penghasil oksigen dan menyaring emisi gas karbon akan berjalan maksimal.
   - Melaksanakan program keluarga berencana dengan hanya memiliki anak tidak lebih dari 2. tentu saja hal ini akan membantu pemerintah untuk mengatasi masalah kepadatan penduduk.

* Mengkonsumsi makanan dan buah lokal.

   Saat ini banyak beredar di pasaran buah-buahan dan makanan import yang didatangkan dari luar negeri. proes pengiriman yang panjang dan jauh menuntut agar buah-buahan dan makanan tersebut tahan lama sampai ke tangan konsumen. Cara yang dipilih agar makanan tersebut awet adalah dengan menyimpannya di dalam lemari pendingin. Padahal pemakaian alat pendingin tersebut akan mengakibatkan menipisnya lapisan ozon. Gas CFC (chlorofluorocarbons) yang biasa digunakan pada lemari pendingin akan merusak dan membuat lapisan ozon berlubang. Ozon yang berlubang mengakibatkan radiasi mtahari mencapai permukaan bumi. Oleh karenanya akan lebih baik jika memilih makanan dan buah-buahan sehat dan ddalam negeri. Buah-buahan lokal yang sehat dan segar banyak dijumpai di pasar tradisional.

* Perjalanan

   Ada 2 macam tipe perjalanan yang dapat kita jumpai. Pertama adalah tipe perjalanan yang buruk dan kedua tipe perjalanan yang baik. Perjalanan menggunakan pesawat dapat dikategorikan ke  dalam tipe perjalanan yang buruk. Pesawat menghasilkan zat buang yang berupa CO2. Sedangkan CO2 itu sendiri adalah gas yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Maka dari itu, sangat disarankan bagi kita untuk memilih tipe Perjalanan yang baik. Beberapa contoh perjalanan yang baik tersebut antara lain :
  
   1. Mengendarai mobil
       Mobil dapat dijadikan alternatif untuk berkendara. Namun saat mengendarai mobil sebaiknya menggunakan bahan bakar yang efisien yaitu dengan tenaga hibrid dan tenaga listrik. Ini dapat meminimalisir hasil gas buang berupa CO2 yang saat ini jumlahnya sekitar 56% dimuka bumi ini. Gas ini juga memiliki dampak negatif bagi kesehatan manusia dan keesehatan lingkungan. Penggunaan tenaga hibrid dan tenaga listrik juga dapat meminimalisir penggunaan minyak bumi.

   2. Bersepeda

   3. Berjalan kaki

   4. Menggunakan transportasi umum
       Dampak positif dari penggunaan transportai umum yaitu juga menekan hasil gas buang yang berupa CO2 yang dihasilkan setiap kendaraan. Bayangkan saja jika setiap manusia menggunakan mobil pribadinya pasti polutan gas CO2 di bumi ini akan semakin banyak.

* Rumah

   Konsep rumah yang ramah lingkungan sebaiknya dapat menekan penggunaan listrik yang berlebihan. Berikut berbagai contoh penerapannya untuk rumah ramah lingkungan :

   1. Beralih menggunakan lampu LED, lampu LED lebih menghemat energi daripada lampu bohlam. 
       Kebanyakan pencahayaan lampu neon konvensional mengandung banyak bahan seperti misalnya merkuri yang berbahaya bagi lingkungan. Lampu LED bebas dari bahan kimia beracun, 100% dapat didaur ulang, dan akan membantu Anda untuk mengurangi jejak karbon Anda hingga sepertiga. Jangka waktu pengoperasian yang panjang umur dapat diartikan bahwa satu lampu LED dapat menghemat material yang setara dengan produksi 25 bola lampu pijar. Pencahayaan LED menghasilkan cahaya inframerah kecil dan hampir tidak ada emisi UV. Karena itu, pencahayaan LED sangat cocok tidak hanya untuk barang dan bahan yang sensitif terhadap panas karena kepentingan sedikit emisi radiasi panas, tetapi juga untuk penerangan dari UV benda sensitif atau bahan-bahan tersebut dalam museum, galeri seni, situs arkeologi dan lain-lain

   2. Memilih barang elektronik dengan kebutuhan energi yang lebih efisien.

   3. Mematikan peralatan ketika sudah selesai ddigunakan.

   4. Tidak menggunakan pengering pakaian, karena tidak dapat menghemat energi listrik. Keringkanlah pakaian dengan memanfaatkan panas matahari.

   5. Memakai panel surya untuk meminimalisir penggunaan listrik yang mengalir dari PLN. Penggunaan panel surya sangat mendukung pada konsep rumah ramah lingkungan.

* Beralih ke energi hijau
  
   Arti dari energi hijau adalah energi yang ramah lingkungan, dengan memanfaatkan energi sumber daya alam dapat menekan penggunaan listrik yang mengalir dari PLN. Pemanfaatan energi yang bersumber daya dari alam dapat diterapkan dengan memanfaatkan teknologi kincir angin untuk menghasilkan energi listrik yang bersifat ramah lingkungan.

* Memeriksa energi

   Dengan memeriksa energi yang telah kita gunakan akan memperlihatkan bahwa kegiatan kita yang telah berhemat energi dapat meminimalisir pengeluaran. Sehingga menghemat energi sama dengan menghemat pengeluaran biaya.

Nah, itulah beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan global warming. Setidaknya secuil saja peran dari kita akan sangat membantu kelangsungan dan kesejahteraan bumi untuk saat ini dan masa yang akan datang.



Kamis, 26 Maret 2015

Akses Air Bersih dan Sanitasi, Masalah Besar Indonesia


Pengadaan akses air bersih sangatlah penting untuk meningkatkan standar kesehatan rakyat Indonesia. Bahkan pengadaan air bersih termasuk dalam salah satu target Millenium Development Goals (MDGs) Indonesia untuk tahun 2015. Targetnya, 68,97 persen rakyat sudah mendapat akses air bersih pada tahun 2015. Faktanya, berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS), baru 47 persen masyarakat yang mendapat akses air bersih. Pemerintah Indonesia menyadari masih tertinggal dalam mencapai target yang ditetapkan dalam Tujuan Pembangunan Milenium atau Millennium Development Goals (MDG) tahun 2015

Pasalnya masalah air bersih tidak hanya membicarakan soal air untuk kebutuhan rumah tangga, namun juga soal sanitasi lingkungan, sumber daya manusia, hingga angka kematian ibu dan bayi di Indonesia. Utusan Khusus Presiden untuk MDGs, Prof Dr dr Nila Moeloek, SpM(K), mengatakan bahwa kekurangan air bersih tidak boleh disepelekan. Karena akan berdampak langsung pada standar kesehatan rakyat Indonesia. Anak paling rentan terkena dampak, mulai dari diare, tipus hingga H5N1 dan H1N1. Sedangkan untuk orang dewasa bisa mengurangi produktivitas perekonomian. Untuk mencapai target 68,97 persen pada 2015 nampaknya akan sulit dilakukan. Menurut Prof Nila, masalah utamanya terletak pada kontur geografis Indonesia yang luas dan beragam. "Memang mungkin sulit tercapai. Tapi bukan berarti pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) tidak ada kerjanya. Geografis Indonesia kan luas, beragam, jadi tidak semudah itu".

Tiap-tiap daerah di Indonesia memiliki masalah geografis yang berbeda, sehingga permasalahan air bersihnya pun berbeda. Seperti di provinsi Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat, masalah air bersih terletak pada sedikitnya sumber air yang bisa digunakan. Sehingga pada musim kemarau, masyarakat rentan mengalami kekeringan. Hanya 5 dari 20 kabupaten atau kota di NTT yang terpenuhi kebutuhan air bersihnya. Sisanya tidak punya akses ke sumber air bersih. Di kota Kupang, pada musim hujan debit air yang keluar dari 29 sumber air hanya 10-75 liter per detik. Pada musim kemarau tentunya debit air itu turun drastis sampai hanya 0,5-20 liter per detik. Sehingga distribusi dari PDAM pun jadi terhambat dari yang biasanya 3 hari sekali menjadi 5-7 hari sekali. Selain jumlah air yang tidak mencukupi, masyarakat Kupang juga memiliki masalah dengan kualitas airnya karena banyak yang tercemar bakteri. Hal ini terjadi karena air tersebut berasal dari air permukaan, bukan air tanah dalam. Dinas Kesehatan Kota Kupang menemukan bahwa sumur galian yang menjadi sumber PDAM dan beberapa pengusaha air lokal kedalamannya kurang dari 80 meter. Malah ada beberapa yang kurang dari 10 meter.




Sementara itu di Papua, masalahnya ada pada sumber air yang jauh. Masyarakatnya tinggal di daerah pegunungan, sementara sumber air ada di dataran rendah. Hal tersebut juga dialami oleh masyarakat Kabupaten Subang, Jawa Barat. Kampung Nyalindung yang masuk dalam daerah Kabupaten Subang, tak jauh dari pusat rekreasi air panas Sari Ater, sampai tahun 2012 belum mendapat akses air bersih dan sanitasi pribadi. Hampir seluruh warga menggantungkan sumber air mereka dari sungai yang mengalir tak jauh dari kampung, karena air sumur mereka tak jernih dan berwarna kekuningan.

Selain masalah yang muncul dari tiap daerah, meningkatnya populasi penduduk serta menurunnya kualitas lingkungan juga menjadi faktor pendukung krisis air bersih ini. Koordinator IUWASH, Jawa Tengah, Jefry Budiman mengatakan, populasi dan kerusakan lingkungan mengakibatkan neraca air bersih di Indonesia sangat kurang. Sehingga ketersediaan air bersih tidak sebanding dengan kebutuhan masyarakat.





Oleh karena itu, kini bermunculan beberapa upaya yang diharapkan dapat mengatasi masalah sanitasi di indonesia. Tidak hanya mengandalkan upaya Pemerintah, peran dari dunia usaha juga di butuhkan. Kurangnya penyediaan akses air bersih dan sanitasi yang memadai di Indonesia terutama didaerah-daerah terpencil, mendorong sejumlah perusahaan memfokuskan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) pada bidang kesehatan, seperti penyediaan sarana air bersih serta sanitasi. Tujuannya tak lain, agar masyarakat di daerah bisa meningkatkan pola hidup bersih dan sehat lewat fasilitas tersebut. Secara spesifik dunia usaha dapat berperan dalam menyelamatkan keberlangsungan sumber air bersih masyarakat. Beberapa upaya yang bisa dilakukan oleh dunia usaha di antaranya mengembangkan sistem reboisasi, sumur resapan dan pembuatan biopori. Untuk membangun sistem tersebut harus diawali dengan kajian agar pembangunan sistem ini menjadi sia-sia dan tidak optimal.

Namun, Indonesia membutuhkan setidaknya Rp 56 triliun untuk mempercepat pembangunan sanitasi. Hal ini mengingat masih ada 109 juta penduduk yang belum punya akses terhadap sanitasi dan air bersih yang memadai. 76% penduduk perkotaan saat ini sudah terakses sanitasi yang baik, jauh dibanding penduduk pedesaan yang masih di angka 47%. Dengan angka itu, Indonesia masih memerlukan dana percepatan pembanguan sanitasi sampai 2020 nanti mencapai Rp 56 triliun. Dana itu sebagian sudah di peroleh baik lewat APBN, donor, public private partnership dan CSR. Dengan adanya program ini, sangat diharapkan masalah air bersih dan sanitasi di Indonesia dapat menemukan titik terangnya.





Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More